Hingga saat ini Human Immunodeficiency Virus
atau yang kita kenal dengan HIV masih menjadi penyakit mematikan dan
belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya. Secara umum sulit sekali
membedakan gejala infeksi virus HIV dengan penyakit lain. Bahkan pada
beberapa kasus, keterlambatan diagnosa penyakit HIV bisa berujung pada
kematian.
Virus
HIV ditularkan melalui cairan tubuh seperti sperma, cairan vagina, atau
transfusi darah. Virus ini hanya memerlukan waktu maksimal dua bulan
sebelum masuk ke dalam tubuh dan menggerogoti sistem pertahanan tubuh
kita.
Antara 40-90 persen orang yang terpapar virus HIV pada awalnya akan mengalami gejala seperti flu yang dikenal dengan
Acute Retroviral Syndrome disingkat
ARS. Namun terkadang gejala HIV tidak dapat terdeteksi bahkan hingga
beberapa tahun ke depan pasca terinfeksi virus HIV.
“Karena HIV tidak dapat terdeteksi sejak dini dan apakah tubuh kita
terpapar HIV atau tidak maka sangat direkomendasikan untuk melakukan tes
laboratorium untuk mengetahuinya. Terutama bagi Anda yang gemar
berhubungan seks dengan orang-orang yang berbeda,” ungkap Michael
Horberg, MD, Direktur
HIV/AIDS for Kaiser Permanente, di Oakland.
Berikut 10 gejala umum virus HIV yang patut Anda waspadai
-
Demam
Demam ringan adalah gejala awal yang paling umum terjadi saat seseorang
terpapar virus HIV. Demam ringan ini seringkali disertai dengan sakit
tenggorokan, kelelahan yang ekstrim, dan pembekakan kelenjar getah
bening.
Demam adalah reaksi dari sistem kekebalan tubuh sebagai akibat dari
masuknya virus HIV ke aliran darah dengan jumlah yang berlipat ganda.
-
Nyeri Otot
Nyeri otot dan persendian tak hanya dialami oleh orang-orang yang
mengalami gejala penyakit hepatitis dan sifilis, tapi juga dirasakan
seseorang yang telah terpapar virus HIV. Gejala ini seringkali diabaikan
hingga paparan virus HIV benar-benar masuk ke tingkat yang
mengkhawatirkan.
-
Ruam Kulit
Ruam bisa berupa bercak-bercak kemerahan pada kulit atau benjolan
menyerupai jerawat dalam jumlah banyak yang tak sembuh-sembuh. Gejala
ini akan muncul jika paparan virus HIV telah mencapai pada tingkat yang
lebih parah.
-
Mual, Muntah, dan Diare
Antara 30- 60 persen pengidap HIV akan mengalami gejala singkat mual,
muntah, dan serangan diare. Selain sebagai gejala HIV tahap lanjut,
gejala-gejala di atas juga bisa muncul sebagai efek samping dari terapi
pengobatan.
-
Berat Badan Turun Drastis
Berat badan turun drastis merupakan gejala tahap lanjut bahwa tubuh
telah terinfeksi HIV. Berat badan turun drastis bisa terjadi akibat
diare atau kurangnya nutrisi tubuh akibat sering memuntahkan makanan.
-
Batuk Kering
Biasanya batuk kering akan terjadi setelah satu tahun terjangkit virus
HIV, sekaligus menjadi tanda bahwa penyakit ini semakin memburuk.
Penggunaan obat batuk sekali pun tidak dapat meredakan batuk akibat
paparan virus HIV.
-
Perubahan pada Kuku
Tanda lain dari infeksi HIV adalah perubahan pada kuku seperti
penebalan, kuku melengkung, dan perubahan warna seperti kuku menghitam
atau muncul garis coklat vertikal atau horisontal dipermukaan kuku.
“Perubahan kuku ini dapat terjadi akibat infeksi jamur seperti kandida.
Mengingat penderita HIV mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh, maka
jamur tersebut bisa sangat mudah berkembang,” kata Horberg.
-
Infeksi Jamur pada Mulut
Infeksi jamur tak hanya menyerang permukaan kuku, tapi juga organ lain
seperti mulut. Jika jamur sudah menginfeksi mulut, maka pengidap HIV
akan sulit untuk mengunyah dan menelan makanan.
-
Kebingungan dan Sulit Konsentrasi
Masalah kognitif bisa menjadi tanda demensia terkait HIV. Selain
mengalami kebingungan dan sulit berkonsentrasi, demensia terkait HIV
juga dapat mempengaruhi memori dan masalah perilkau seperti mudah marah
dan tersinggung. Gejala ini diiringi dengan menurunnya keampuan motoris
tubuh seperti menjadi ceroboh, menurunnya kordinasi tubuh, dan bahkan
hilangnya kemampuan untuk menulis.
-
Herpes Genital
Herpes genital yang terjadi pada penderita HIV umumnya tidak memiliki
gejala yang khas. Namun luka yang muncul cenderung lebih besar dan lebih
dalam. Penyakit ini lebih banyak menular melalui hubungan kontak kulit
dengan penderita, terutama saat berhubungan seks. Umumnya gejalanya
adalah timbul bintil-bintil di bagian luar alat kelamin yang bentuknya
memerah dan membengkak.
Sumber : http://id.she.yahoo.com